Yakobus

oleh Douglas Estes

Hari 13

Baca Yakobus 2:12-13

Pemikiran akhir Yakobus tentang dosa membeda-bedakan orang menurut kekayaan mereka disampaikan dalam bentuk seruan tentang bagaimana orang percaya di dalam Kristus seharusnya hidup dalam relasi dengan Allah dan sesama. Ia memerintahkan para pembaca suratnya dengan tegas, “Berkatalah dan berlakulah seperti orang-orang yang akan dihakimi oleh hukum yang memerdekakan orang” (Yakobus 2:12). Inilah cara Yakobus untuk menekankan pentingnya orang percaya memperhatikan perkataan dan tingkah laku mereka. Pertanyaannya, bagaimana seharusnya kita berbicara dan bertingkah laku?

Oleh karena kita telah dimerdekakan oleh Kristus dan suatu hari kelak akan diadili berdasarkan relasi dengan-Nya, sudah sepatutnya kita berbicara dan bertingkah laku sebagai orang yang telah dimerdekakan.

Hendaklah kita berbicara dan bertingkah laku seolah-olah masa depan kita yang agung bersama Allah sudah kita jalani sekarang. Jika kita ada di dalam Kristus, suatu hari kelak kita akan diadili menurut hukum Kristus. Namun, ini adalah hukum yang memerdekakan, karena hukum ini mengadili kita tidak berdasarkan apa yang kita katakan atau perbuat, tetapi atas dasar relasi kita dengan Kristus. Kita adalah orang-orang yang melawan hukum, dan jika kita diadili dengan hukum yang di luar Kristus, kita akan dinyatakan bersalah. Namun, apabila kita terikat dengan Kristus, kita diadili bersama Kristus. Karena itu, perkataan dan perbuatan kita tidak boleh bertolak belakang.

Oleh karena kita telah dimerdekakan oleh Kristus dan suatu hari kelak akan diadili berdasarkan relasi dengan-Nya, sudah sepatutnya kita berbicara dan bertingkah laku sebagai orang yang telah dimerdekakan. Kita harus berbicara dan bertindak dalam pengharapan yang besar akan pemuliaan yang kelak kita terima. Hendaknya kita berbicara dan berkelakuan seperti anggota Kerajaan Surga yang sejati.

Jika kita tidak demikian, kata Yakobus, akan ada konsekuensi yang kita terima. Ketika kita menunjukkan sikap pilih kasih terhadap orang kaya dan menghina orang miskin, kita gagal menunjukkan belas kasihan kepada yang miskin. Kita menghakimi mereka dengan pikiran duniawi dan tanpa kasih (ay.4). Apabila kita tidak bermurah hati kepada orang-orang yang membutuhkan itu, sebagai konsekuensinya, Allah juga tidak akan bermurah hati pada saat Dia menghakimi kita.

Yakobus menyimpulkan dengan sebuah perumpamaan, sebuah peringatan, sebuah seruan untuk kita, “Belas kasihan akan menang atas penghakiman” (ay.13). Belas kasihan Allah akan dinyatakan mengatasi penghakiman Allah; kebesaran Allah akan dinyatakan dengan lebih kuat ketika kita bermurah hati daripada ketika kita menghakimi orang lain.

Marilah kita dengan leluasa mengucapkan dan menunjukkan kasih kepada sesama kita, tanpa membeda-bedakan, melainkan dengan penuh belas kasihan.


Renungkan:

Apa salah satu ciri kehidupan sehari-hari orang yang telah dimerdekakan oleh Injil? Bagaimana kita dapat menunjukkan bahwa perkataan dan perbuatan kita tidak bertolak belakang?

Dalam situasi seperti apa kita dapat memilih untuk menunjukkan belas kasihan daripada menghakimi?

comment

journal

share


writer1

Tentang Penulis

Douglas Estes (PhD, Nottingham) adalah lektor kepala dalam bidang Perjanjian Baru dan teologi praktika di South University. Beliau adalah editor jurnal teologi Didaktikos, dan kontributor tetap untuk topik seputar ilmu pengetahuan bagi Christianity Today. Douglas telah menulis atau menyunting delapan buku, sejumlah besar esai, artikel, dan tinjauan untuk berbagai terbitan umum maupun ilmiah. Beliau pernah melayani sebagai gembala gereja selama enam belas tahun.

Penulis Seri Perjalanan Iman:

Seri Perjalanan Iman®  adalah materi terbitan Our Daily Bread Ministries.

Misi kami adalah menjadikan hikmat Alkitab yang mengubahkan hidup dapat dimengerti dan diterima oleh semua orang.

Hak dan Izin  |  Syarat dan Ketentuan  |  Kebijakan Privasi